Tualterkini.com.- Sebanyak 120 karya tulis siswa SMA Negeri 5 Tual diserahkan kepada Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Tual untuk menjadi bagian koleksi Perpustakaan Umum Daerah. Penyerahan ini menjadi langkah konkret mendorong budaya literasi sekaligus memperkuat dokumentasi pengetahuan, sejarah, dan kebudayaan lokal.
_Jadi Jejak Literasi dan Dokumentasi Sejarah Kei_
Kegiatan Penandatanganan Berita Acara dan Serah Terima Hibah Buku dan Karya Tulis mengusung tema _“Mengabadikan Karya, Mencerdaskan Bangsa”_ berlangsung Jumat 14 Agustus 2026 pukul 14.00–16.00 WIT di Ruang Diskusi Lantai 2 Gedung Perpustakaan Umum Daerah Kota Tual.

Selain 120 karya tulis siswa, sejumlah buku karya penulis lokal turut diserahkan. Di antaranya karya Dr. Cenny Putnarubun, M.Si., Andi Ridwan, S.Pd.I., M.Pd., Gr., dan Pitjon Tomatala, S.Pi., M.Si.
Seratus dua puluh karya tulis siswa diserahkan langsung oleh Kepala SMA Negeri 5 Tual, Jhon Elton Ngarbingan, S.Pd., Gr., didampingi para guru dan pengelola Perpustakaan Rahan Tavkain SMAN 5 Tual.
Kegiatan tersebut dihadiri Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Tual, Rudi A. Bugis, S.E., M.Si., didampingi Sekretaris Dinas, Ratna Sari Tamher. Prosesi serah terima dipandu Kepala Bidang Layanan Perpustakaan, Alifuan Amir, S.Kom., M.AP., bersama pustakawan, Irfan Bungin, S.S.
Perpustakaan Diharapkan Jadi Laboratorium Gagasan
Dalam sambutannya, Rudi A. Bugis menegaskan keterbukaan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Tual untuk berkolaborasi dengan sekolah, komunitas, penulis, dan pegiat literasi dalam mengembangkan budaya membaca dan menulis.
“Kami terbuka untuk berdiskusi dengan komunitas mana saja untuk pengembangan literasi di Kota Tual. Perpustakaan Kota Tual kami harapkan menjadi laboratorium ide dan gagasan untuk pembangunan Kota Tual ke depan,” ujarnya.
Bagi Rudi, karya tulis masyarakat termasuk karya siswa memiliki arti penting karena perpustakaan bukan hanya menghimpun buku, tetapi juga mendokumentasikan pengetahuan yang lahir dari masyarakat Tual.
Dorongan Lahirnya Penulis Muda dan Dokumentasi Sejarah Kei
Harapan agar lahir lebih banyak penulis muda juga disampaikan Dr. Cenny Putnarubun, dosen, penulis, dan peneliti pada Politeknik Negeri Kota Tual.
Ia menyatakan kesediaannya mendampingi para penulis pemula dalam proses penulisan, mulai tahap awal hingga menghasilkan karya. “Ilmu pengetahuan akan semakin bermanfaat ketika dibagikan dan diamalkan untuk kepentingan orang lain,” katanya.
Senada, Andi Ridwan menekankan pentingnya memperbanyak karya tulis yang mengangkat sejarah dan kebudayaan Kei. Ia menilai referensi tertulis mengenai sejarah dan kebudayaan Kei, khususnya yang berkaitan dengan Kota Tual, masih perlu diperbanyak.
“Tradisi menulis bukan hanya aktivitas akademik, tetapi juga bagian dari upaya menjaga ingatan kolektif dan identitas daerah,” ujarnya.
Apresiasi SMAN 5 dan Wacana Komunitas Penulis
Kepala SMAN 5 Tual, Jhon Elton Ngarbingan menyampaikan apresiasi kepada Dinas Perpustakaan dan Kearsipan atas pendampingan kepada Perpustakaan Rahan Tavkain. Pendampingan tersebut turut mendukung perpustakaan sekolah memperoleh Akreditasi B dengan predikat Memuaskan.
Ia berharap kerja sama antara sekolah dan Dinas terus diperkuat, khususnya dalam pengembangan perpustakaan sekolah dan peningkatan budaya membaca dan menulis di kalangan siswa.
Diskusi juga mengarah pada wacana pembentukan komunitas penulis di Kota Tual. Pegiat literasi, Maria Tohatta mendorong adanya wadah bersama bagi para penulis untuk saling mendukung dan mempermudah proses penerbitan. Gagasan tersebut mendapat respons positif dari Sekretaris Dinas, Ratna Sari Tamher.
Karya Siswa Kini Miliki Ruang Baru
Penyerahan 120 karya tulis siswa dan buku para penulis menjadi lebih dari sekadar serah terima. Karya-karya tersebut kini memiliki ruang baru untuk dibaca, dipelajari, dan diwariskan.
Dari ruang kelas SMAN 5 Tual, 120 karya siswa kini menemukan rumah baru di perpustakaan. Dari karya para penulis lokal, tumbuh harapan agar semakin banyak gagasan Tual yang ditulis, didokumentasikan, dan diwariskan.
Sebab pembangunan daerah tidak hanya diukur dari infrastruktur, tetapi juga dari seberapa kuat masyarakatnya membaca, menulis, menyimpan pengetahuan, dan mewariskan gagasan kepada generasi berikutnya.
_Mengabadikan karya, mencerdaskan bangsa. Dari literasi, Tual membangun pengetahuan. Dari pengetahuan, lahir gagasan. Dan dari gagasan, tumbuh masa depan. Tual Kota Literasi, menuju Tual Maryadat. (RF)