GEF-6 CFI Indonesia Bangun Rantai Pasok Perikanan Lokal KNMP Tual untuk Dukung Program Makan Bergizi Gratis

Bagikan Artikel

 

Tualterkini.com.- Program Makan Bergizi Gratis/MBG membuka peluang baru bagi penguatan ekonomi masyarakat pesisir. Di Kota Tual, peluang itu mulai diwujudkan melalui _Inisiatif Champion Kampung Nelayan Merah Putih/KNMP_ di Ohoi Labetawi pada 30 Juli–1 Agustus 2026.

Kegiatan yang difasilitasi GEF-6 Coastal Fisheries Initiative/CFI Indonesia bersama Dinas Perikanan Kota Tual ini mempertemukan kelompok perempuan pengolah hasil perikanan dengan pengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi/SPPG Kota Tual. Tujuannya membangun rantai pasok produk perikanan lokal yang berkualitas dan berkelanjutan untuk mendukung MBG.

Koordinator Wilayah MBG Kota Tual Veronika D. Songjanan mengatakan, satu dapur SPPG di Tual membutuhkan sekitar 400 kg ikan per hari. Sementara pasokan yang tersedia baru sekitar 100 kg.

“Kekurangan tersebut terpaksa diganti dengan sumber protein lain seperti ayam atau telur. Ini justru menjadi peluang besar bagi kelompok usaha perempuan di KNMP untuk mengisi kebutuhan pasar yang telah tersedia,” jelas Veronika, Jumat (1/8/2026).

Dapur MBG membutuhkan produk olahan ikan siap masak seperti fillet, bakso, nugget, sosis ikan, dimsum, stik ikan, abon hingga frozen food. Seluruh produk wajib memenuhi standar mutu, keamanan pangan, bersertifikat halal, dikemas baik, dan dipasok konsisten.

“Kami mencari mitra yang mampu menjaga kualitas dan memenuhi komitmen. Produk harus aman, berkualitas, dan siap mengganti apabila terjadi kekurangan jumlah maupun kerusakan sesuai kesepakatan,” tambahnya.

Knowledge Management and M&E Specialist PMU GEF-6 CFI Indonesia Ahadar Tuhuteru menyebut, kegiatan di KNMP Ohoi Labetawi merupakan salah satu dari 3 lokasi percontohan Inisiatif Champion di Indonesia. Dua lokasi lain ada di KNMP Warmasen, Raja Ampat dan KNMP Wailihang, Buru.

“Selama ini tantangan terbesar kelompok bukan memproduksi, tetapi mencari pasar. Sekarang pasarnya sudah tersedia. Tinggal bagaimana kelompok mampu memenuhi standar kualitas dan menjaga konsistensi produksi,” ujar Ahadar.

GEF-6 CFI Indonesia tidak hanya memberi pelatihan teknis, tetapi juga membangun ekosistem usaha: peningkatan kapasitas, sertifikasi halal, legalitas, kemasan, pemasaran digital, hingga akses pasar. Hingga kini lebih dari 6.500 nelayan telah didampingi. Produk binaan bahkan sudah masuk toko modern, supermarket, hingga Bandara Pattimura Ambon.

Ahadar menekankan 3 kunci keberhasilan: niat kuat, konsisten jaga kualitas, dan kelola keuangan kelompok secara transparan.

Mewakili KKP, Ketua Tim Kerja Perencanaan Strategis Biro Perencanaan Ade Wiguna menilai kegiatan ini selaras dengan Roadmap Pengarusutamaan Gender KKP 2025–2029.

“Pendampingan ini contoh nyata sinergi pemerintah dan mitra pembangunan dalam memperkuat pemberdayaan ekonomi perempuan. Harapannya kelompok tidak hanya mampu memasok SPPG, tetapi juga menembus pasar nasional,” ujarnya.

Senada, Gender Specialist GEF-6 CFI Indonesia Faridatun Amalia menegaskan pemberdayaan perempuan bertujuan meningkatkan pendapatan sekaligus memperkuat kepemimpinan dan akses usaha dalam ekonomi biru yang inklusif.

Untuk memperkuat kesiapan, hadir narasumber dari Kemenag terkait sertifikasi halal, Dinkes Kota Tual soal izin PIRT, dan Politeknik Perikanan Negeri Tual. Dua Champion binaan dari Maluku Tenggara, Sri Fani Mony dan Zulfa Hayer, juga berbagi pengalaman menembus pasar modern.

Kepala Dinas Perikanan Kota Tual Rustam Serang mengapresiasi kolaborasi ini. “Tantangan ke depan bukan hanya meningkatkan produksi, tetapi memastikan hasil perikanan memberi nilai tambah melalui pengolahan dan memperluas akses pasar,” katanya.

Menteri KKP Sakti Wahyu Trenggono menegaskan, pemerintah menargetkan 5.000 Kampung Nelayan Merah Putih hingga 2029 sesuai mandat Presiden Prabowo untuk memastikan sumber daya perikanan memberi manfaat sebesar-besarnya bagi nelayan.

Melalui Inisiatif Champion ini, GEF-6 CFI Indonesia berharap lahir model kolaborasi yang menghubungkan pemberdayaan perempuan, penguatan usaha perikanan, peningkatan gizi, dan keberlanjutan pesisir yang bisa direplikasi di KNMP lain di Indonesia.(RF)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *