Tualterkini.com.- Musim kemarau panjang dan dampak El Niño menyebabkan ratusan kepala keluarga di wilayah kepulauan Tayando Tam, Kota Tual dilanda kekeringan. Sumber air tanah warga mengering total sejak April 2026.
Berdasarkan laporan Tim Reaksi Cepat TRC BPBD Kota Tual, wilayah yang terdampak terparah berada di Desa Tam Ngurhir, Ohoitom, dan Ngurnila, Kecamatan Tayando Tam. Laporan tersebut disampaikan pada Senin, 18 Agustus 2026.

Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Kota Tual, Ahmad Rahayaan, S.Sos menjelaskan, masyarakat di tiga desa tersebut secara historis bergantung pada sumur gali atau perigi untuk kebutuhan domestik sehari-hari.
“Sejak bulan April 2026 hingga saat ini, kombinasi musim kemarau panjang dan fenomena El Niño menyebabkan penurunan muka air tanah yang drastis. Berdasarkan verifikasi lapangan, mayoritas sumur atau perigi warga kini dalam kondisi kering total atau hanya menyisakan lumpur,” ujar Ahmad.
Kondisi ini mengancam ketersediaan air bersih bagi ratusan kepala keluarga di wilayah kepulauan tersebut.
Selain ancaman krisis air bersih, dampak kekeringan juga dirasakan dari sisi psikis. Dalam laporan BPBD disebutkan, masyarakat mengalami trauma berkepanjangan akibat kesulitan memenuhi kebutuhan air bersih.
Wilayah Tayando Tam merupakan daerah kepulauan yang akses air bersihnya sangat terbatas saat musim kemarau.
BPBD Kota Tual saat ini telah melakukan komunikasi dengan staf desa dan warga setempat untuk memperoleh informasi terkini dan melakukan asesmen di lokasi kejadian.
“Kami mengimbau kepada warga terdampak agar selalu waspada terhadap kejadian yang mengancam keselamatan dan segera meminta pertolongan,” kata Ahmad.
BPBD juga telah berkoordinasi dengan Pusdalops PB BNPB, Pusdalops PB Provinsi Maluku, Wali Kota Tual, Ketua DPRD Kota Tual, Wakil Wali Kota, Pj. Sekda, dan instansi terkait lainnya untuk penanganan lebih lanjut.(RF)