Tualterkini.com.- Ribuan warga Kota Tual dan Kabupaten Maluku Tenggara menggelar Konvoi Road to Kickoff World Cup 2026 dan Pawai Damai. Kegiatan dipusatkan di Stadion Maren Langgur, Ohoijang Watdek, Selasa 10/6/2026, sebagai bentuk perayaan menyambut Piala Dunia 2026.

Konvoi melibatkan komunitas suporter negara peserta Piala Dunia 2026, pemuda, tokoh masyarakat, dan unsur pemerintah daerah. Pesan utama yang digaungkan: perdamaian, persatuan, dan sportivitas lintas negara.
Bupati Maluku Tenggara Taher Hanubun, Wali Kota Tual Ahmad Yani Renuat, Wakil Wali Kota Tual Amir Rumra, anggota DPRD Provinsi Maluku, serta pengurus Komite Nasional Pemuda Indonesia/KNPI dua wilayah hadir dalam kegiatan.
Dari Stadion Maren ke Lapangan Lodar El
Rute konvoi dimulai dari Stadion Maren, melewati landmark kota, jembatan utama, dan pusat keramaian jalur Maluku Tenggara–Kota Tual, hingga berakhir di Lapangan Lodar El. Sepanjang rute, warga menyambut antusias. Suasana kebersamaan terlihat kuat.
Bupati Taher Hanubun menegaskan olahraga, khususnya sepak bola, punya kekuatan besar mempersatukan masyarakat.
“Kegiatan ini membuktikan sepak bola pemersatu. Momentum Piala Dunia 2026 harus jadi sarana memperkuat persaudaraan, menghormati perbedaan, serta menumbuhkan budaya sportivitas,” kata Bupati.
Wali Kota: Ini Cermin Indonesia Damai ke Dunia
Wali Kota Tual Ahmad Yani Renuat menekankan dimensi global dari kebersamaan warga Kei. Ia menyebut kegiatan ini bukan hanya perayaan lokal, tetapi cermin wajah Indonesia yang damai di tengah dunia penuh tantangan.
“Antusiasme menyambut Piala Dunia 2026 harus jadi energi positif. Tidak hanya hiburan olahraga, tetapi untuk kuatkan citra daerah sebagai ruang hidup toleran, terbuka, dan berorientasi pada perdamaian dunia,” ujar Wali Kota.
Ia mengingatkan persatuan dan solidaritas sosial adalah kekuatan utama di tengah dinamika geopolitik dan tekanan ekonomi global. Pengalaman kebersamaan ini, menurutnya, menunjukkan falsafah hidup Evav yang saling mengikat dalam persaudaraan bisa jadi kontribusi nyata bagi narasi perdamaian global.
Wali Kota juga mewanti-wanti masyarakat agar tidak terpengaruh hoaks dan provokasi di media sosial yang berpotensi ganggu persatuan.
“Literasi informasi dan sikap bijak menerima informasi jadi kunci jaga harmoni sosial di tengah derasnya arus digital,” tegasnya.
Ia mengajak warga menjunjung tinggi sportivitas mendukung negara peserta Piala Dunia. Perbedaan pilihan wajar, tapi harus dalam bingkai penghormatan, bukan perpecahan.
“Semangat ini diharapkan menginspirasi generasi muda jadi pelaku berprestasi di tingkat nasional maupun internasional, khususnya olahraga,” pungkasnya.
Konvoi damai lintas suporter ini dinilai praktik “football diplomacy” di akar rumput. Sepak bola jadi bahasa universal yang menyatukan perbedaan, sekaligus mengirim pesan dari Indonesia Timur ke dunia: persatuan bisa dirayakan lewat olahraga. (RF)