Tualterkini.com.- Negeri Iran dilaporkan tengah mengguncang tatanan perdagangan energi global dengan mempertimbangkan syarat baru bagi kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz, yakni transaksi minyak menggunakan mata uang Yuan Tiongkok. Kebijakan ini dinilai sebagai langkah strategis Teheran di tengah memanasnya konflik kawasan dan berpotensi menggeser dominasi Dolar AS dalam perdagangan minyak dunia.

Dikutip dari Laporan CNN menyebutkan Iran kemungkinan memberikan akses terbatas bagi kapal tanker yang bersedia bertransaksi dengan Yuan. Namun, Al Jazeera menegaskan klaim tersebut belum dapat diverifikasi secara independen. Meski demikian, wacana ini dinilai bukan sekadar isu jangka pendek, melainkan bagian dari pergeseran besar dalam sistem energi global.
Data riset dari CNBC Indonesia mengungkap konflik Iran berpotensi menjadi “karpet merah” bagi lahirnya petroyuan, sekaligus menguji dominasi lama petrodollar. Selama ini, kekuatan dolar tidak hanya karena ekonomi Amerika Serikat yang besar, tetapi karena hampir seluruh perdagangan minyak dunia dilakukan dalam dolar—sebuah sistem yang terbentuk sejak kesepakatan antara AS dan Arab Saudi pada 1974.
Kini, fondasi itu mulai retak. Laporan Deutsche Bank menyebut konflik Iran dapat mempercepat tekanan terhadap sistem petrodollar. Apalagi, arah perdagangan energi global mulai bergeser ke Asia. Arab Saudi bahkan dilaporkan menjual minyak ke China jauh lebih besar dibanding ke Amerika Serikat, menandakan perubahan pusat gravitasi energi dunia.
Selain itu, minyak dari Rusia dan Iran yang terkena sanksi kini semakin banyak diperdagangkan di luar dolar, menggunakan Yuan, Rubel, hingga mata uang lokal lainnya. Bahkan, infrastruktur pembayaran non-dolar seperti proyek lintas negara mulai dikembangkan, memperkuat jalur alternatif di luar sistem keuangan Barat.
Di tengah dinamika tersebut, Indonesia turut terdampak. Setelah tertahan sejak awal Maret 2026 akibat meningkatnya ketegangan perang antara Amerika Serikat-Israel melawan Iran, dua kapal tanker Indonesia, Pertamina Pride dan Gamsunoro, kini bersiap melintasi Selat Hormuz. Pemerintah Indonesia melalui KBRI Tehran melakukan koordinasi intensif dengan otoritas Iran guna memastikan izin pelayaran bagi kapal pembawa stok BBM tersebut.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri RI, Ivone Mewengkong, menyatakan sinyal positif telah diterima dan kini masuk tahap teknis. “Telah terdapat tanggapan positif dari pihak Iran yang saat ini sedang ditindaklanjuti pada aspek teknis dan operasional,” ujarnya.
Sebelumnya, kedua kapal tersebut tertahan di Teluk Arab akibat lonjakan tensi geopolitik. Iran juga telah mengeluarkan nota kepada Organisasi Maritim Internasional (IMO) yang memperbolehkan kapal non-agresif melintas selama mematuhi aturan keselamatan.
Ketegangan di Selat Hormuz kini tidak hanya soal keamanan, tetapi juga soal kendali jalur energi dunia. Sejumlah negara bahkan mulai bernegosiasi langsung dengan Teheran untuk memastikan kelancaran pasokan minyak mereka. Pendiri Quincy Institute for Responsible Statecraft, Trita Parsi, menyebut kondisi ini menunjukkan pergeseran kekuatan geopolitik.
“Negara-negara kunci kini menghubungi Iran untuk menemukan jalur aman mereka. Ini menunjukkan siapa yang mengendalikan situasi,” ujarnya.
Lebih jauh, data Bank for International Settlements (BIS) menunjukkan porsi Yuan dalam perdagangan valas global terus meningkat, dari sekitar 7 persen pada 2022 menjadi 8,5 persen pada 2025. Ini menjadi sinyal bahwa Yuan mulai masuk radar sebagai mata uang global alternatif.
Namun, dominasi dolar belum akan runtuh dalam waktu dekat. Negara-negara Teluk masih sangat bergantung pada dolar, baik melalui sistem nilai tukar maupun cadangan devisa mereka. Selain itu, pengaruh Amerika Serikat dalam rantai pasok energi global masih menjadi faktor penyangga utama kekuatan dolar.
Meski begitu, jika akses jalur energi seperti Selat Hormuz mulai dikaitkan dengan penggunaan mata uang tertentu, maka peta perdagangan minyak dunia bisa berubah secara perlahan. Dalam skenario ekstrem, pasar minyak global bahkan bisa terpecah: sebagian menggunakan dolar, sebagian lagi menggunakan Yuan.
Sebagai jalur yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia, Selat Hormuz kini menjadi episentrum bukan hanya konflik militer, tetapi juga perang mata uang global. Dari sinilah, dunia mungkin sedang menyaksikan awal dari babak baru: ketika Yuan mulai menantang dominasi dolar dalam perdagangan energi internasional.(***)