Di Pulau Kur; Hoer Findamar Perahu Layar Menyambut Lailatul Qadar Di Malam Ke 27 Ramadan
Laporan : Farhat Rettob/ Kontributor Tualterkini.com
Dalam perjalanan sejarah bangsa hingga usia ke 77. Baru pertama kali tercatat dalam lembaran tinta emas.”Hoer Findamar” atau perahu mini tanpa awak asal Kecamatan Pulau Kur, Kota Tual Provinsi Maluku,
Diketahui, sejak masa kepemimpinan mantan Camat Pulau-pulau Kur Lajania Madamar memperjuangkan perahu mini asal Kecamatan Kur untuk ditetapkan saat Sidang oleh Tim Ahli Warisan Budaya Nasional Tak Benda di Indonesia pada tanggal 21 Oktober 2022.

Penetapan tersebut dituangkan dalam Surat Keputusan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia Nomor 414/P/2022 Tentang Penetapan Warisan Budaya Takbenda Indonesia tahun 2022.
Sidang Penetapan Warisan Budaya Takbenda Indonesia Tahun 2022 menghasilkan rekomendasi penetapan sejumlah 200 usulan Warisan Budaya Takbenda Indonesia dari 32 Provinsi.
Pulau Kur di ujung Maluku, akses terbatas tapi strategis sebagai pintu gerbang Laut Banda. 100% masyarakatnya Islam, Perahu Mini dalam bahasa Kur di sebut “Hoer Findamar”
Pulau Kur punya cerita unik, ada dua gunung kembar. Yaitu gunung Makara dan gunung Balak Tufin, jadi simbol Bumi ‘Makara’ yang mirip Mekkah.
Nama ‘Kur’ dari Al-Quran, menunjukkan kuatnya pengaruh Islam di sana. Penamaan ini jadi bukti sejarah penyebaran Islam dari Arab ke Nusantara.
Seratus persen Islam, Masyarakat Pulau Kur kental dengan nilai-nilai Islam, tradisi, dan budaya yang kuat. Pulau Kur jadi contoh harmoni antara agama dan budaya lokal. Dan keharmonisan ini terus terjaga sejak leluhur. menunjukkan kuatnya pengaruh Islam di sana.
Tradisi Sholat Tarawih dalam bulan Ramadhan, di Pulau Kur, imam diwajibkan berhotbah panjang saat Idul Fitri, menunjukkan betapa pentingnya khotbah dalam tradisi Islam di sana. Hotbah panjang ini mungkin untuk sampaikan pesan moral dan spiritual buat masyarakat.
Pulau Kur sendiri, Ramadhan punya tradisi unik, seperti malam ke-15 (kenut) dengan 7 orang adzan, dan malam ke 27 atau malam Lailatul Qadar dengan 9 orang adzan. Tradisi ini kental dengan nuansa Islami dan budaya lokal yang dipraktekkan sejak dari leluhur. Ada makna khusus di balik jumlah adzan ini.
Selain itu, Perahu Mini atau Perahu Layar Lailatul Qadar di malam ke-27 Ramadhan, menunjukkan simbol tradisi Islami di Pulau Kur yang kental dengan nuansa laut. perahu ini jadi simbol “penyambutan” Lailatul Qadar, Ada cerita di balik tradisi ini. (***)