Malraterkini Com. – Ketua BEM Nusantara, Adam Rahantan, angkat bicara terkait konflik antar pemuda yang terjadi di Desa Fiditan, Kecamatan Dullah Utara, Tual, Kamis (26/2/2026).
Ia menilai peristiwa tersebut harus menjadi refleksi bersama mengenai pentingnya pembinaan dan penguatan karakter generasi muda secara berkelanjutan.

Konflik yang sempat memicu keresahan di tengah masyarakat itu, menurut Rahantan, tidak dapat dipandang semata sebagai insiden sesaat. Ia menegaskan bahwa persoalan yang melibatkan pemuda perlu dilihat secara komprehensif, dengan menelusuri akar persoalan sosial yang melatarbelakanginya.
“Perlu langkah pembinaan yang lebih terstruktur dan berkesinambungan agar potensi konflik serupa tidak kembali terulang di masa mendatang,” ujarnya dalam keterangan tertulis.
Koordinator Daerah BEM Nusantara Maluku tersebut menyampaikan bahwa generasi muda merupakan aset strategis daerah yang harus dijaga dan diarahkan ke aktivitas positif. Minimnya ruang ekspresi, lemahnya penguatan nilai persaudaraan, serta terbatasnya wadah kegiatan produktif dinilai dapat menjadi faktor yang memicu gesekan sosial di tingkat akar rumput.
BEM Nusantara Maluku mengapresiasi langkah cepat aparat keamanan dan pemerintah daerah bersama unsur pimpinan dan DPRD Kota Tual dalam membangun koordinasi guna meredam situasi sehingga tidak berkembang menjadi konflik yang lebih luas. Sinergi antara aparat keamanan, pemerintah daerah, dan unsur legislatif dinilai menjadi fondasi penting dalam menjaga stabilitas keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas).
Namun demikian, Rahantan menegaskan bahwa proses rekonsiliasi pasca-konflik harus dibarengi dengan program pembinaan jangka panjang. Pendekatan dialogis, edukasi kebangsaan, penguatan nilai toleransi, serta pemberdayaan pemuda melalui kegiatan sosial, olahraga, dan kewirausahaan perlu diperkuat agar generasi muda memiliki ruang aktualisasi yang sehat dan produktif.
Menurutnya, pembinaan generasi muda bukan hanya menjadi tanggung jawab aparat keamanan, tetapi juga membutuhkan keterlibatan aktif pemerintah daerah, tokoh masyarakat, tokoh agama, lembaga pendidikan, serta keluarga sebagai lingkungan pertama pembentukan karakter.
“Kolaborasi lintas sektor sangat dibutuhkan untuk menyentuh akar persoalan dan mencegah potensi konflik menjadi bom waktu di kemudian hari,” tegasnya.
BEM Nusantara Maluku juga mengajak seluruh pemuda di Kota Tual untuk menjadikan peristiwa ini sebagai pembelajaran bersama. Nilai kearifan lokal “hidup orang basudara” yang menjadi identitas masyarakat Maluku, menurutnya, harus terus dijaga dan diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.
Sebagai representasi mahasiswa, BEM Nusantara Maluku menyatakan komitmennya untuk terus berperan aktif dalam mendorong dialog, edukasi, dan gerakan sosial yang memperkuat persatuan serta stabilitas daerah. Mereka berharap Kota Tual dapat terus tumbuh sebagai daerah yang aman, harmonis, dan menjadi ruang yang sehat bagi perkembangan generasi muda yang berintegritas dan berdaya saing. (RF)