Tualterkini.com.- Setelah hampir dua tahun mengalami kevakuman kepemimpinan, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Aru akhirnya bangkit melalui Konferensi Cabang (Konfercab) IV yang resmi dibuka Wakil Bupati Kepulauan Aru, Muhamad Djumpa.Konfercab IV berlangsunv di Gedung Lantai II BPKAD Kabupaten Kepulauan Aru, Senin 6 April 2026.

Konferensi ini diikuti oleh 18 peserta yang direkomendasikan dari tiga komisariat. Forum tersebut menjadi momentum krusial untuk mengakhiri stagnasi panjang sekaligus menentukan arah baru organisasi.
Kevakuman HMI Cabang Aru terjadi sejak hasil Konfercab tahun 2024 yang melahirkan dualisme kepemimpinan. Dalam proses tersebut, muncul dua ketua umum, namun secara internal ditemukan bahwa salah satu calon tidak memenuhi prasyarat sesuai Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) HMI.
Formatur dengan suara terbanyak justru tidak mendapatkan Surat Keputusan (SK) dari Pengurus Besar (PB) HMI. Sebaliknya, formatur lain yang kemudian diberikan SK dinilai bermasalah oleh komisariat, karena bukan kader HMI Aru dan proses studi serta aktivitas ke-HMI-annya berlangsung di Ambon.
Keputusan tersebut memicu gugatan dari komisariat kepada PB HMI. Dengan argumentasi yang dinilai kuat dan rasional secara prosedural, komisariat menuntut kejelasan legalitas kepemimpinan cabang. Hasilnya, PB HMI mengeluarkan SK pembatalan kepengurusan HMI Cabang Aru.
Sebagai langkah penyelamatan organisasi, PB HMI kemudian menunjuk caretaker untuk menuntaskan konflik dan mempersiapkan pelaksanaan konfercab ulang guna menyatukan kembali kader.
Koordinator Caretaker HMI Cabang Aru, A. Hanafi Majid, menegaskan bahwa Konfercab IV ini merupakan momentum penting untuk mengakhiri konflik dan membangun kembali soliditas organisasi.
“Ini adalah titik balik. Setelah konflik dan kevakuman yang cukup panjang, HMI Aru harus kembali bersatu, melahirkan kepemimpinan yang sah, dan mampu menjawab tantangan daerah,” tegas Hanafi.
Ia juga mengapresiasi Pemerintah Daerah Kepulauan Aru atas dukungan dalam menyukseskan konferensi tersebut, serta mendorong kolaborasi nyata antara kader HMI dan pemerintah daerah dalam pembangunan.
Dalam sambutannya, Wakil Bupati Muhamad Djumpa menegaskan pentingnya peran mahasiswa dalam pembangunan daerah serta mengajak HMI untuk kembali mengambil peran strategis.
“Pemerintah membutuhkan energi dan gagasan dari generasi muda. HMI harus hadir sebagai mitra kritis sekaligus solutif dalam mengawal pembangunan,” ujarnya.
Dampak dari konflik internal tersebut tidak hanya dirasakan di dalam organisasi. Secara internal, kondisi ini dinilai menghambat proses kaderisasi, bahkan disebut sebagai bentuk “pembodohan” terhadap kader yang sedang berproses. Regenerasi kepemimpinan terputus, sementara kualitas kader mengalami stagnasi akibat perpecahan yang terjadi.
Di sisi eksternal, HMI Cabang Aru kehilangan banyak momentum penting dalam mengawal berbagai isu strategis daerah. Ketidakjelasan legalitas organisasi membuat peran kontrol sosial HMI melemah di tengah dinamika pembangunan di Kepulauan Aru.
Salah satu peserta konfercab mengaku optimistis bahwa momentum ini akan menjadi awal kebangkitan baru.
“Kami ingin HMI kembali hidup dan bersatu. Konflik kemarin harus jadi pelajaran agar ke depan lebih kuat,” ungkapnya.
Konfercab IV ini diharapkan melahirkan kepemimpinan yang legitimate, kuat secara intelektual dan moral, serta mampu mengembalikan peran HMI sebagai kekuatan strategis di tengah masyarakat.
Kebangkitan HMI Aru bukan sekadar menyelesaikan konflik organisasi, tetapi juga menghidupkan kembali peran mahasiswa dalam mengawal arah pembangunan daerah.
Dari Kepulauan Aru, semangat kebangkitan itu kini kembali menyala menjadi tanda bahwa setelah konflik panjang, persatuan dan masa depan baru mulai dibangun. (RF)